Hybrid dan Pertahanan

Inovasi Teknologi Pertahanan Berbasis Teknologi

Oleh : Kunto Arief Wibowo

Beberapa waktu lalu, Kogabwilhan I menuntaskan salah satu inovasi yang dilakukan. Ide yang sudah lama dirancang dan diproses akhirnya terwujud. Bahagianya lagi, produk inovasi tersebut bisa pula langsung tersalurkan dan terpakai. Itulah Jetsky Autonomous dan Mudboat yang diserahkan ke Komando Daerah Angkatan Laut (Kodaeral) XII. Dua teknologi ini diharapkan bisa membantu operasional pertahanan laut oleh Kodaeral, karena rancangannya memang tertuju pada wilayah perairan dan pertahanan laut.

Melalui dua inovasi tersebut, akan sangat membantu saat prajurit Kodaeral untuk melakukan patroli, deteksi dini, pelacakan dan berbagai hal di garis depan, secara efektif dan efisien. Teknologi autonomous, yang tidak mengandalkan manusia sebagai yang terdepan, tetapi dijalankan teknologi otomatis tentu jauh lebih aman dan efisien. Begitupan adanya Mudboat yang mampu masuk ke berbagai medan, sangat diperlukan saat akses daerah perairan yang sulit dan terbatas.

Sementara itu, jika diluaskan pandangan kita, tentu bisa dilihat sebetulnya Indonesia ini adalah negara yang betul-betul maritim. Bayangkan dari total luas wilayah keseluruhan yang mencapai 5 juta km2  lebih, 70% dari itu adalah lautan, hanya 30% yang berupa daratan. Wilayah daratan ketika dikalkulasi lanjutan, tampak pula daerah rawa-rawa, sungai dan danau yang luasnya juga tidak sedikit. Disini bisa diambil kesimpulan bahwa fokus Indonesia memang pada manajemen perairan.

Tentu tidak mudah dalam mengelola daerah perairan yang demikian luas. Aksesibilitas antar daerah bukan hal sederhana, padahal dalam manajemen pengelolaan kawasan, termasuk juga manajemen pertahanan, mobilitas dan aksesibilitas adalah nomor satu (Chihaia, 2025). Apalagi daerah-daerah perairan Indonesia adalah lokasi yang strategis serta mengandung kekayaan sumber daya alam yang sangat besar. Dipastikan, ini akan menggiurkan bagi pihak asing untuk masuk dan mencicipi kekayaan yang ada.

Adanya kebijakan pemerintah untuk mendorong pemerataan pembangunan dengan kebijakan pemberdayaan daerah 3 T (tertinggal, terdepan, terluar), sebetulnya adalah wujud dari pentingnya tata kelola daerah perairan. Semua daerah yang dikatakan terdepan dan terluar tersebut adalah perairan, karena memang Indonesia dikelilingi laut. Maka mau tidak mau penguatan dari berbagai sisi mutlak harus dilakukan.

Ketika saat ini, perkembangan teknologi sudah demikian pesatnya, maka daerah-daerah terdepan dan terluar tersebut, harusnya menjadi pelaku utama yang sudah dibekali berbagai kecanggihan peralatan. Tidak hanya pada sektor pertahanan negara secara langsung, tapi juga sektor lain di masyarakat. Idealnya kelompok dari masyarakat yang terdepan dan terluar itulah yang pertama kali menguasai ragam teknologi modern, karena merekalah yang pertama kali berhadapan dengan segala sesuatu intervensi dari luar. Merekalah yang akan pertama kali melihat dan merasakan jika ada pencuri ikan di tengah laut, mereka juga yang akan pertama merasakan jika ada konflik dengan pihak luar, dan mereka jugalah yang akan pertama kali digoda untuk berpihak kepada asing.

Oleh sebab itu, inovasi dan pemberdayaan kelompok terluar patut jadi perhatian serius.

Inovasi dan pemberdayaan secara teoritis membutuhkan stimulus-stimulus dari kelompok lain. Akan sulit jika hanya berharap mereka yang akan berusaha sendiri. Pada konteks inilah, intervensi teknologi dan sebaran pengetahuan dari para pemikir, ilmuwan, ahli-ahli teknologi, perlu dipusatkan.

Jika mengacu pada paradigma riset yang sekarang dikembangkan di Indonesia, “riset berdampak”, maka seharusnya keterdampakan itu ada pada wilayah-wilayah terluar dan terdepan. Berbagai riset dan produknya semestinya bisa diterapkan secara langsung, tanpa harus menunggu segala keruwetan birokrasi. Teknologi itu akan selalu berkembang, artinya jika teknologi yang ada belum sempurna, pengembangan berikutnyalah yang menjadi penyempurna. Tapi terpenting, lakukan terlebih dahulu.

Ini menjadi pekerjaan rumah bagi semua orang-orang pintar di Indonesia, terutama ilmuwan yang selama ini berkutat dalam berbagai riset dan laboratorium. Dalam kacamata sishankamrata, seluruh komponen itu adalah sub sistem yang saling mendukung. Para ilmuwan, ahli IT, pakar-pakar teknologi, pakar-pakar ilmu sosial, sejatinya adalah “dapur” pertahanan. Merekalah yang mengaduk, meracik, dan kemudian mewujudkannya dalam bentuk teknologi terapan. Hasilnya, itulah yang kemudian disalurkan ke publik untuk dipakai. Ilmuwan berdampak, esensinya ada disitu.

Kembali ke soal Jetsky Autonomous dan Mudboat, anggaplah itu sebagai trigger yang akan menimbulkan snowball effect kepada pihak lain. Sebelum ini sudah pula dikembangkan teknologi 3 in 1, yaitu mesin yang mampu mengubah air laut menjadi air minum yang aman dikonsumsi, memproduksi es batu, dan mengolah air bersih menjadi garam. Inipun sudah disalurkan ke berbagai daerah perairan, seperti di Mentawai.

Bagi TNI, ini bukan soal merebut wilayah sipil, tetapi bertindak cepat karena komponen di daerah pertahanan (masyarakat) terindikasi memiliki persoalan dan berpotensi menjadi lemah. Apabila indikasi ini sudah tampak, mau tidak mau upaya cepat harus dilakukan, dan wujudnya adalah intervensi teknologi tepat guna.

Masih sangat banyak kebutuhan dan keperluan mereka-mereka yang berada di garis depan. Sudah saatnya, dengan mendorong dan menggedor paradigma “berdampak”, kekuatan daerah 3 T tersebut bisa dientaskan. Andai belum juga terwujud, maka TNI mau tidak mau harus terus berinovasi.

Scroll to Top