Oleh: Ajeng Nisa Kusuma S.Ipem.,MM
Film “Abadi Nan Jaya” merupakan sebuah film ber-genre horror-thriller yang mengangkat tradisi jamu lokal. Film ini merupakan film buatan Kimo Stamboel yang berada di Netflix. Dalam isu yang dinaikan justru mengenai warisan tradisional Indonesia yaitu jamu, bahwasannya cerita ini mengangkat tentang keluarga pembuat jamu yang mencoba menciptakan sebuah ramuan yaitu “jamu awet muda” yang ternyata hal ini membuat wabah menjadi zombie di desa mereka. Hal yang menariknya dalam isu permasalahan yang diangkat dalam film ini yaitu memadukan sebuah tema mengenai ambisi bisnis jamu, konflik keluarga dan horror lokal.
Dalam film “Abadi Nan Jaya” justru yang menariknya disini secara tidak langsung permasalahan yang diangkat yaitu mengenai warisan budaya tradisional di Indonesia mengenai jamu yang sudah hampir punah. Meskipun tidak adanya film ini justru memang secara tidak langsung masyarakat Indonesia juga sudah jarang mengenal tentang jamu. Jamu sendiri sebetulnya merupakan minuman herbal tradisional Indonesia yang terbuat dari bahan alami seperti rempah-rempah dan tanaman obat yang gunanya untuk bisa menjaga kesehatan dan mengobati penyakit.
Jamu dikenal sebagai ramuan herbal tradisional yang telah ada sejak abad ke-5 hingga ke-16 masehi. Beberapa relief candi dan naskah kuno seperti Serat Primbon dan Kitab Usada mencatat resep dan penggunaan jamu di kerajaan-kerajaan seperti Mataram, Majapahit dan Sriwijaya. Istilah “Jamu” berasal dari bahasa Jawa Kuno, “Djampi” yang artinya memiliki metode penyembuhan yang menggabungkan obat dan doa yang mencerminkan makna spiritual dan pengobatan alami. Uniknya pada budaya Indonesia jamu disini bukan hanya sekedar menjadi sebuah minuman ataupun obat akan tetapi juga mengandung filosofi menjaga keseimbangan tubuh dan hubungan harmonis antara manusia dengan alam.

Jenis jamu di Indonesia juga sangat banyak dan terkenal akan khasiatnya yang rata-rata masih sering digunakan oleh orang-orang yang masih berketergantungan akan jamu, terdapat jamu kunyit asam yang dimana jamu ini terbuat dari kunyit dan asam dan hal ini bermanfaat untuk menjaga kesehatan kulit dan daya tahan tubuh. Selain itu ada jamu beras kencur yang terbuat dari beras dan juga kencur yang bermanfaat untuk meredakan sakit tenggorokan dan juga masih banyak jamu-jamu yang terkenal di Indonesia selain kedua jenis jamu tersebut seperti temulawak, galian singset, pahitan yang bercampuran dengan berbagai tanaman herbal, dan juga gabungan herbal seperti adanya kombinasi jahe, cengkeh dan sebagiannya.
Hal yang menariknya disini namun ironis juga, ketika jamu menjadi sebuah minuman khas herbal dari Indonesia, justru warisan tradisional ini agak terancam. Padahal faktanya jamu secara resmi diakui sebagai “Warisan Budaya Takbenda” dunia oleh UNESCO pada 6 Desember 2023, dan menjadikannya warisan ke-13 dari Indonesia. UNESCO memberikan pengakuan ini dikarenakan jamu merupakan sebuah ekspresi budaya yang menghubungkan manusia dengan alam dan menjadi sarana ekspresi budaya dan juga sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan. Adanya pengakuan ini diharapkan bisa memajukan budaya sehat jamu di Indonesia dan dunia. Pernyataan tersebut menjadi ironis, karena justru ternyata sudah jarang masyarakat Indonesia yang mengonsumsi jamu.
Kenapa jamu bisa terancam punah karena para petani banyak yang beralih untuk menanam tanaman yang banyak memberikan sebuah keuntungan lebih cepat, contohnya teh dan kopi. Hal ini bisa menjadi penurunan yang drastis bagi pasokan rempah-rempah tradisional untuk membuat jamu. Permintaan dan minat masyarakat Indonesia terhadap jamu juga sudah berkurang dan tidak konsisten dalam pengelolaan kualitas bahan baku.
Regenerasi peracik jamu juga sudah minim sebab sebagian besar peracik jamu tradisional sudah berusia lanjut dan sedikit yang meneruskan ilmu tersebut, apalagi generasi muda jarang sekali mengelola dan meneruskan warisan budaya tentang jamu ini. Resep jamu tradisional dan budidaya tanaman obat yang menjadi sumber bahan utama untuk membuat jamu bisa menghilang.
Maraknya pengobatan modern dan pola hidup masyarakat yang cenderung beralih ke obat-obatan farmasi membuat jamu kurang diminati dan berpotensi juga mengikis pengetahuan budaya tradisional. Alih fungsi lahan untuk perkebunan, pertambangan dan pembangunan juga bisa menjadi sebuah ancaman bagi keberadaan tanaman obat asli Indonesia secara ekologis.
Kembali pada film “Abadi Nan Jaya”, film ini mengangkat isu pelestarian tradisi budaya karena jamu merupakan bagian asli dari identitas Indonesia. Pesan yang tersirat dalam film “Abadi Nan Jaya” secara tidak langsung membuat penonton sadar bahwasanya jamu bukan hanya produk herbal tetapi juga sebagai warisan budaya yang perlu dijaga keseimbangannya. Film ini menjadi sebuah media dan reminder bagi kita akan pentingnya pelestarian budaya tradisional di tengah arus modern yang tidak bisa dihentikan.
Meskipun film “Abadi Nan Jaya” mengangkat ketegangan antara pelestarian warisan budaya jamu dan ancaman modernisasi yang disuguhkan secara berlebihan, tetapi film ini juga menyuguhkan simbolis. “Jamu” sebagai sebuah simbol hubungan manusia dengan alam dan juga keseimbangan hidup. Esensi budaya tradisional akan jamu ini dalam film tersebut sangat mendorong kita sebagai penonton untuk bisa merefleksikan sebuah warisan budaya dan memperhatikan nilai dari jamu. Pesan moral yang bisa diambil dari film ini juga yang dikaitkan dengan tradisi jamu di Indonesia yaitu secara tidak langsung mendorong kita sebagai masyarakat Indonesia untuk tetap bisa melestarikan jamu, bukan hanya sekedar sebagai “produk herbal” saja, akan tetapi sebagai symbol budaya yang harus tetap dihormati dan dijaga maknanya.




