Menghadapi perubahan karakter ancaman yang semakin kompleks, TNI perlu memastikan kesiapan dan profesionalisme prajurit melalui latihan yang dilakukan secara terus-menerus, bertahap, dan berulang. Namun, latihan konvensional membutuhkan dukungan sarana, transportasi, logistik, pemeliharaan, serta biaya operasional yang besar. Dalam kondisi keterbatasan anggaran, pengurangan frekuensi latihan berisiko menurunkan kemampuan prajurit. Karena itu, yang perlu ditransformasikan bukan tujuan latihan, melainkan metode untuk menghasilkan lebih banyak jam latihan dan repetisi dengan sumber daya yang tersedia.
Pemanfaatan teknologi digital seperti virtual reality (VR), simulasi, digital twin, dan artificial intelligence (AI) dapat menjadi bagian dari transformasi tersebut. Teknologi ini memungkinkan prajurit berlatih dalam berbagai skenario secara aman, berulang, dan terukur sebelum menghadapi latihan nyata. VR dapat digunakan mulai dari tingkat individu untuk familiarisasi dan penguasaan prosedur, tingkat kelompok untuk membangun koordinasi dan komunikasi, hingga tingkat komando untuk melatih analisis situasi dan pengambilan keputusan. Sementara itu, digital twin memungkinkan peralatan dan sistem nyata direplikasi ke dalam lingkungan digital sehingga dapat digunakan untuk pembelajaran, pemeriksaan, dan pemeliharaan tanpa selalu mengoperasikan platform fisik.
Transformasi latihan tersebut diarahkan pada terbentuknya pola pembinaan prajurit yang lebih terintegrasi, berbasis data, dan bersifat hybrid. Setiap latihan dapat menghasilkan data untuk mengukur perkembangan kompetensi, mengidentifikasi kesalahan, serta menentukan materi yang perlu diperbaiki melalui after action review digital dan dukungan AI. Melalui pembangunan VR Training Hub, perpustakaan simulasi, jaringan latihan yang aman, serta lingkungan simulasi lintas matra, berbagai satuan dapat menggunakan sumber daya dan skenario latihan secara bersama. Dengan demikian, teknologi digital tidak dimaksudkan untuk menggantikan latihan lapangan, tetapi menjadi instrumen untuk meningkatkan frekuensi, efektivitas, dan efisiensi latihan sehingga kesiapan prajurit dapat dipelihara secara berkelanjutan.


