Kewirausahaan Lokal

Penguatan Wisata dari Hulu ke Hilir berbasis Teknologi Tepat Guna

Oleh : Kunto Arief Wibowo

Badai pandemi Covid 19 pernah meluluhlantakkan sektor-sektor publik di negara ini. Sektor pariwisata adalah bidang yang cukup menderita. Batasan bepergian, kebijakan menjaga jarak, menyebabkan pariwisata mau tidak mau harus berdiam diri sejenak. Sekarang, setelah badai berlalu, sektor ini kembali menggeliat, publik mulai melirik dan melakukan berbagai kunjungan.

Sektor pariwisata di Indonesia, memiliki karakteristik khusus yaitu dominan pada pemanfaatan keunggulan sumber daya alam, ketimbang bentuk lainnya. Hal ini wajar karena memang potensi alam di Indonesia sangat besar dan menyimpan ragam keindahan yang menjadi daya tarik publik. Lautan, pegunungan, lembah, ngarai, air terjun, danau, hutan, dan sebagainya adalah potensi besar yang selalu jadi magnet. Ragam keunggulan ini berpadu pula dengan banyaknya kearifan lokal, tradisi, seni dan budaya yang melingkupi masing-masing objek.

Indonesia adalah surganya wisata alam, khas Melayu.

Tetapi seiring dengan pengembangan ragam objek tersebut, persoalan besar kemudian ikut mengintai. Kerusakan lingkungan dan bencana alam sebagai turunannya, adalah masalah yang tak terhindarkan. Kerusakan lingkungan tentu saja akan berdampak langsung pada pengembangan aset wisata karena asetnya sendiri bersumber dari kekuatan alam.

Bukti konkrit tampak dari rusaknya ekosistem sungai-sungai di Jawa Barat, seperti Citarum, Cikapundung, Cikalapa, dan lainnya. Sungai-sungai yang sebetulnya sangat potensial menjadi objek wisata di Tanah Parahiyangan ini sekarang justru menjadi tempat sampah segalanya (Mongabay, 25/01/2023).

Begitu yang terjadi di Danau Maninjau, Sumatera Barat. Danau tektonik yang dulunya menjadi ikon Ranah Minang, destinasi utama para wisatawan, sekarang sepi dan hening. Lalu lalang wisatawan hampir tak terlihat, kecuali beberapa warga lokal yang datang kala lebaran. Kondisi danau yang sudah tak terawat, pencemaran, banyaknya ikan yang mati, menjadi alasannya (Marganof et al., 2007).

Pada konteks inilah, perlu revitalisasi menyeluruh dalam mengembangkan sektor wisata alam di Indonesia. Tidak hanya pada tataran objek atau sarana prasarana fisik, tetapi juga pada kesungguhan perubahan cara berpikir para pihak, terutama masyarakat dan pemerintah daerah selaku penanggung jawab. Wisata jangan lagi dipandang sebagai semata-mata menyuguhkan objek, photo-photo, buat content, selesai. Sudah masanya sektor ini mengarah pada konsep keutuhan dan keserasian antara alam dan lingkungan. Selanjutnya tinggal dicari kemasan untuk pengikatnya.

Tanpa menghubungkan keserasian tersebut, sulit sektor wisata Indonesia akan bertahan. Aspek keberlanjutan akan terabaikan. Contohnya, kasus deforestasi hutan bambu di Subang Jawa Barat yang kemudian mengancam debit air Sungai Cipangasahan. Ancaman kekeringan terjadi, kesuburan tanah berkurang, dan disisi lain longsor juga mengancam. Padahal sektor wisata alam daerah ini banyak bergantung pada keutuhan ekosistem yang ada.

Artinya disini, keberhasilan sektor wisata berbanding lurus dengan keutuhan keseriusan dan komitmen menjaga alam.

Ekologi, Sport dan Tourism

Melihat realitas tersebut, saya mengusulkan (diawali dengan aksi nyata) memformat sektor pariwisata menjadi konsep keberlanjutan dan partisipatif. Pola pikirnya tidak lagi semata-mata berorientasi objek tapi proyeksi kedepan dengan menghitung semua cost ekonomi yang ditimbulkan. Pariwisata tanpa kalkulasi ekonomi juga tidak akan berjalan.

Banyak contoh keberhasilan sebenarnya dengan pola pikir seperti ini. Kesuksesan pemuda-pemuda di Desa Lembar Selatan, NTB dalam mengelola kawasan Mangrove yang kemudian berhasil masuk nominasi Anugerah Desa Wisata Indonesia 2023 adalah salah satunya (mongabay,30/06/2023). Begitu juga nyamannya berwisata ke Desa Pujon Kidul, Malang, yang mampu mengkolaborasikan karakteristik lingkungan dengan pengembangan wilayah. Tak ada yang tersisa, itu prinsipnya saat berbicara mengenai limbah. Tertatalah objek dan termanfaatkannya segala limbah (mongabay, 12/10/2019).

Gagasan yang dijalankan adalah memadukan sektor hulu dan hilir dari seluruh rangkaian terkait, memformatnya dalam satu kemasan yang menyenangkan. Ekologi atau ketahanan dan keberlanjutan lingkungan jadi faktor utama. Apapun bentuk objek wisata alam, dikawal oleh kesadaran pada keutuhan lingkungan. Keutuhan lingkungan ini dikemas dengan ragam aktifitas menarik dan menyenangkan, khas wisatawan, misalnya sport/olahraga. Kemasan-kemasan olahraga yang otentik kelokalan dan khas objek tersebut bisa diformat sejak awal. Sasaran akhirnya adalah kenyamanan dan kesenangan para pelancong. Kalkulasi ekonominya adalah keuntungan ekonomis masyarakat setempat, bukan semata-mata pengelola objek saja.

Titik kunci konsep ecology, sport, tourism adalah kesatuan utuh sebuah ekosistem wisata. Wisata danau misalnya, pembenahan bukan pada danaunya semata, tapi pada ekosistem di sekitar danau yang akan memberikan pengaruh pada kualitas objek. Ini dilandasi kenyataan hukum alam bahwa segala sesuatu pasti terhubung dengan yang lainnya. Danau pasti terhubung dengan ekosistem disekitarnya.

Sasaran utama kesuksesan program ini adalah komunitas atau ekosistem disekitarnya, terutama sekali masyarakat setempat. Berbicara masyarakat, maka pendekatan kemanusiaan akan jadi prioritas utama.

Sebagai contoh, pengembangan pariwisata alam di sekitar pesisir Banten, terutama pulau-pulau yang ada. Analisis masalah menunjukkan bahwa ini bukan soal objek semata, tapi pada aktifitas disekitarnya. Kerusakan terumbu karang dan pencemaran air laut terkait dengan aktifitas berbagai pihak disekitarnya. Membenahi terumbu karang tanpa masuk ke penyebab, tidak akan membuahkan hasil. Karena itu sektor hulu harus dibenahi.

Hal pertama dilakukan adalah membangun keterlibatan komunitas masyarakat setempat untuk ikut dalam mengembangkan program penyelamatan lingkungan, aktifitas ekonomi tanpa pencemaran, dan membangun pengawasan bersama seluruh masyarakat. Komunitas dibentuk dan mereka terlibat dari awal.  Kawasan perlindungan laut disiapkan dan masyarakat dilakukan edukasi partisipatif.

Dalam prakteknya mereka tidak semata-mata berurusan dengan teknis-teknis pengelolaan lingkungan. Kemasannya adalah sport dan tourism. Artinya sedari awal masyarakat sudah masuk ke wilayah ini. Sport dan tourism bukan untuk pengunjung saja, tapi masyarakat sudah terlibat.

Selesai pada tingkat ini, maka sektor hilir dikelola. Disinilah kolaborasi dengan pemerintah daerah diperkuat, LSM-LSM dan lembaga lainnya yang fokus pada sektor ini ikut berpartisipasi. Pengelola objek wisata juga dilibatkan. Pengawasan dilakukan secara bersama, pembenahan juga bersama. Secara konkrit, keutuhan lingkungan, kemasan olahraga yang menarik dilakukan, kenyamanan wisatawan dan  objek yang berkelanjutan senantiasa di monitor.

Tentu saja, apa yang dilakukan tersebut membutuhkan ragam inovasi dan teknologi. Saya selalu menekankan bahwa dalam setiap inovasi yang dilakukan, pendekatan teknologi tepat guna harus jadi acuan. Teknologi berguna untuk membantu dan mempermudah pengembangan objek, tetapi tetap dalam kerangka keberlanjutan lingkungan hidup. Teknologi ramah lingkungan, bukan justru boros energi dan kaya limbah. Berbagai inovasi dimunculkan disini, mulai dari mesin pengolah sampah plastik, pengatur Ph tanah, filter air, mesin pengolah limbah menjadi energi, dan sebagainya. Semua jadi kesatuan sehingga membentuk sistem pengembangan wisata dengan aset ekologi terjaga.

Jika dalam tulisan ini saya menggunakan istilah pariwisata berkelanjutan, yang kemungkinan dianggap tidak pas oleh penggagas pariwisata regeneratif, biarlah perdebatan konseptual itu terjadi. Yang jelas sebuah objek harus dipelihara bersama dan tidak bisa hanya mengkerangkeng pada satu wilayah semata. Kerja nyata dan aksi yang terukur, itu jauh lebih penting ketimbang perdebatan yang tidak substansial.

Apabila ditarik lebih jauh, gagasan ini tentunya punya implikasi yang lebih luas. Kenapa demikian, karena objeknya bertumpu pada alam, maka menjaga satu aset sama dengan menjaga satu kawasan ekosistem lingkungan hidup. Misalnya, menjaga daerah hilir Sungai Musi di Palembang, tidak cukup hanya mengedukasi warga Palembang saja, tapi semua warga yang berada di DAS Sungai Musi. Artinya, keberhasilan mengelola sebuah objek wisata secara baik dan berkelanjutan, akan menyelamatkan ekosistem lingkungan hidup dalam skala yang lebih besar.

Cerita sukses tentang ini tampak dari bagaimana program Dutch Room for the River di Belanda yang berhasil mengelola dengan baik aliran Sungai Rhine dan Meuse. Keberhasilan menjaga semua unsur yang berada di DAS sungai-sungai ini, akhirnya berhasil menjadikan sungai sebagai aset penting pariwisata Belanda (eea.europa.eu, 30/08/2018). Alhasil kemudian Belanda berhasil mengatasi ancaman banjir yang selalu menghantui.

Andai usaha seperti ini bisa dimaksimalkan, dilaksanakan secara massif, didukung penuh pengambil kebijakan, bisa dibayangkan dampak besar yang akan ditimbulkan. Andai satu objek wisata punya kaitan dengan sekitar 50 km2 area disekitarnya, maka jika ada sekitar 100 objek saja, tentu luasannya amat besar. Indonesia kemudian akan menjadi negara yang paling ramah dan aman dengan lingkungan setempat.

Bagi TNI, semua itu tidak lepas dari konsep Sishankamrata yang menjadi paradigma penting bagi ketahanan bernegara. Penguatan potensi alam, kapasitas masyarakat, keutuhan lingkungan, adalah modal dasar dalam membangun dan memantapkan sistem pertahanan keamanan rakyat semesta. Rakyat yang kuat adalah rakyat yang hidup di alam yang juga kuat dan terjaga. Terpenting rakyat hidup dalam kemandirian dan merasakan kuasa besar atas alam yang mereka tempati. Paradigma besar “semangat berbagi” bukan semangat “menguasai”. (inovasi rakyat)

Tulisan ini sudah pernah dipublikasikan di www.mongabay.co.id tanggal 22 Februari 2024

Scroll to Top